Revenue Stream, Revenue Model, dan Bisnis Model - Apa Beda & Fungsinya untuk Startup?

Published on: Tuesday, Jun 25, 2024 • Updated: Wednesday, Oct 29, 2025

Revenue Stream, Revenue Model, dan Bisnis Model - Apa Beda & Fungsinya untuk Startup?

Memahami Revenue Stream, Revenue Model, dan Business Model

Banyak dari kita masih mencampuradukkan istilah revenue stream, revenue model, dan business model. Padahal tiga hal ini berbeda fungsi dan levelnya. Penting buat founder untuk bisa membedakan, karena ini akan memengaruhi cara kita merencanakan pendapatan dan menumbuhkan bisnis.

Di bawah ini, kita akan bahas definisinya satu per satu, beserta implikasinya.


1. Revenue Stream

Revenue stream adalah sumber pendapatan tunggal dari sebuah bisnis. Ini menjawab pertanyaan sederhana: uangnya masuk dari mana?

Satu perusahaan bisa punya satu atau beberapa revenue stream sekaligus. Masing-masing stream berdiri sendiri sebagai jalur pemasukan.

Contoh revenue stream:

  • Advertisement fee (biaya iklan).
  • Product sales (penjualan produk).
  • Subscription (langganan bulanan/tahunan).
  • Admin fee (biaya pengelolaan atau biaya layanan).
  • Komisi transaksi.
  • Licensing fee.

Ilustrasi perbedaan revenue stream, revenue model, dan business model

Revenue | Gambar oleh cottonbro studio

Jadi, kalau kamu bertanya "Apa saja cara perusahaan ini menerima uang?", kamu sebenarnya sedang memetakan revenue stream.


2. Revenue Model

Kalau revenue stream menjawab "dari mana uangnya datang", revenue model menjawab "bagaimana cara kita menghasilkan uang itu secara berulang dan berkelanjutan".

Revenue model adalah kerangka bagaimana bisnis menetapkan mekanisme monetisasi. Ini mencakup:

  • Skema pricing (bagaimana harga ditentukan, flat fee, tiered pricing, usage-based, freemium, dsb).
  • Pola pembayaran (sekali bayar, berlangganan, bagi hasil).
  • Cara distribusi (langsung ke konsumen, via reseller, via platform).
  • Aktivitas marketing yang mendukung monetisasi.

Contoh:

  • Model subscription SaaS: pengguna bayar biaya bulanan untuk akses fitur.
  • Model marketplace take rate: platform mengambil persentase dari setiap transaksi.
  • Model franchise fee: mitra bayar biaya lisensi dan royalti rutin.

Perhatikan bedanya dengan revenue stream:

  • Revenue stream: "subscription."
  • Revenue model: "kita pakai subscription bulanan 299 ribu rupiah per user, dengan tiga tier paket (basic, pro, enterprise), dibayar di muka, pembatalan minimal 30 hari."

Revenue model jauh lebih spesifik pada mekanisme pemasukan.


3. Business Model

Business model adalah strategi menyeluruh tentang bagaimana perusahaan menciptakan nilai, mengirimkan nilai itu ke customer, lalu menangkap nilai tersebut sebagai pendapatan.

Dengan kata lain, business model mencakup struktur keseluruhan bisnis, termasuk:

  • Siapa customer-nya.
  • Masalah apa yang diselesaikan.
  • Value proposition (janji nilai yang ditawarkan).
  • Cara produk/jasa dikirimkan.
  • Channel distribusi.
  • Struktur biaya.
  • Resource utama.
  • Partner penting.
  • Revenue stream dan revenue model yang digunakan.

Business Model: strategi komprehensif yang menggambarkan bagaimana sebuah bisnis menciptakan, mendeliver, dan mendapatkan revenue dari produk/layanannya. Ini adalah kerangka besar yang menaungi semua aspek operasional dan komersial perusahaan.

Salah satu tools yang populer untuk memetakan business model adalah Business Model Canvas.

Business Modal Canvas | Gambar oleh ThePowerMBA

Business Model Canvas membantu kita melihat gambaran utuh dalam satu halaman:

  • Customer Segments
  • Value Proposition
  • Channels
  • Customer Relationships
  • Revenue Streams
  • Key Resources
  • Key Activities
  • Key Partners
  • Cost Structure

Dengan begitu, founder bisa melihat bukan hanya "bagaimana kita menghasilkan uang", tapi "apakah seluruh sistem bisnisnya nyambung dan bisa bertahan".


Kenapa Pembedaan Ini Penting?

Memahami perbedaan di antara ketiganya akan melatih cara berpikir kita sebagai founder. Dampaknya praktis, bukan teori.

  1. Mengetahui revenue stream Membantu kita merencanakan sumber pemasukan bisnis. Kita jadi bisa menjawab:
    • Sumber uang kita apa saja?
    • Mana yang paling kuat saat ini?
    • Apakah kita terlalu bergantung pada satu sumber saja?
  2. Mengetahui revenue model Membantu kita merancang strategi monetisasi yang sehat secara finansial. Ini bukan hanya "dari mana uang datang", tapi juga:

    • Bagaimana cara menagihnya?
    • Berapa besar yang ditagih?
    • Seberapa sering kita bisa menagih ulang?
    • Taktik marketing dan distribusi apa yang dibutuhkan agar model ini jalan?

    Jadi, revenue model itu bicara soal sistem pendapatan yang bisa diulang.

  3. Mengetahui business model Memberi gambaran menyeluruh tentang bisnis kita. Ini akan menjawab pertanyaan seperti:
    • Untuk siapa kita ada?
    • Nilai apa yang membuat mereka mau bayar?
    • Apa yang harus kita lakukan (dan bayar) agar nilai itu bisa delivered terus?
    • Bisakah model ini tumbuh, atau cepat buntu?

Singkatnya:

  • Revenue stream = jalur uang.
  • Revenue model = mekanisme menghasilkan uang.
  • Business model = keseluruhan cara bisnis bekerja sebagai mesin nilai.

Penutup

Banyak founder langsung bicara "gimana cara naikin revenue" tanpa pernah benar-benar memetakan: pendapatan datang dari mana, cara monetisasinya apa, dan struktur bisnisnya seperti apa.

Memahami tiga lapisan ini memaksa kita untuk lebih jernih:

  • Apakah kita sedang butuh revenue stream baru?
  • Atau sebenarnya revenue model kita yang perlu diperbaiki (pricing salah, paket tidak cocok)?
  • Atau justru business model kita yang tidak fit dengan siapa pun di pasar?

Membedakan ketiganya membuat diskusi soal pertumbuhan jadi lebih tajam, dan bukan cuma lebih keras.

Referensi: Alphajwc.com Foundersnetwork.com Fi.co

Bangun bisnis yang jalan, bukan cuma ide di kepala

Program intensif 3 bulan untuk membangun bisnis dari nol. Validasi ide, bangun MVP dengan bimbingan praktisi. Enable other businesses to grow. Batch 2026 sekarang dibuka.

Daftar Launchpad Sekarang
Details